JAKARTA – Polemik anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bergulir. Publik mempertanyakan sejumlah pos belanja bernilai miliaran rupiah, mulai dari pengadaan tablet hingga semir sepatu, yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi masyarakat.
Berdasarkan dokumen pengadaan, total anggaran BGN mencapai sekitar Rp6,31 triliun dengan lebih dari seribu paket kegiatan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pengadaan tablet dengan nilai ratusan miliar rupiah, serta berbagai perlengkapan seperti sepatu, kaos dalam, hingga semir sepatu.
Pengamat Soroti Potensi Pemborosan
Pengamat dari Seknas FITRA, Betta Anugrah Setiani, menilai alokasi anggaran tersebut berpotensi tidak efisien jika tidak disusun berdasarkan kebutuhan riil.
“Pengadaan barang dan jasa seharusnya berbasis harga pasar yang rasional. Selisih harga berpotensi membuka ruang penyimpangan,” ujarnya.
Senada, Indonesia Corruption Watch (ICW) juga menyoroti adanya indikasi pembengkakan anggaran, khususnya pada pengadaan tablet yang dinilai berpotensi mengalami mark-up hingga ratusan miliar rupiah.
DPR Akan Panggil BGN
Sorotan juga datang dari parlemen. Sejumlah anggota Komisi IX DPR RI menyatakan akan memanggil pihak BGN untuk memberikan klarifikasi terkait perencanaan anggaran tersebut.
DPR menilai terdapat kelemahan dalam penyusunan anggaran, terutama dalam membedakan belanja prioritas dengan pengeluaran yang tidak berkaitan langsung dengan program utama.
Langkah pemanggilan ini dilakukan untuk memastikan program strategis seperti MBG tidak terbebani oleh pengeluaran non-esensial.
Menanggapi polemik tersebut, Kepala BGN, Dadan Hindayana, membenarkan adanya pengadaan tersebut, namun menegaskan bahwa seluruhnya didasarkan pada kebutuhan operasional program.
BGN menjelaskan bahwa tablet digunakan untuk mendukung sistem digitalisasi pencatatan dan distribusi program MBG.
Sementara itu, perlengkapan seperti sepatu dan semir sepatu disebut sebagai bagian dari kebutuhan seragam petugas lapangan.





