Pada keterangan unggahannya, Sony turut menyampaikan doa dan harapan agar Nanik mampu menjalankan tugas barunya dengan baik.
“Sebuah kebahagian melihat sahabat dan rekan yang baik mendapatkan amanah yang lebih besar untuk mengabdi kepada bangsa,” tulisnya.
“Selamat atas jabatan baru sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan tugas.”
“Teruslah menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi banyak orang. Doa terbaik selalu menyertai setiap langkah pengabdian untuk Indonesia,” lanjut Sony.
Pengamat Minta Prabowo Tetap Awasi Kinerja Nanik
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Trias Politika, Agung Baskoro, meminta Presiden Prabowo tetap melakukan pengawasan terhadap kepemimpinan Nanik di BGN meski keduanya memiliki hubungan yang telah terjalin lama.
Nanik diketahui pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pilpres 2019.
Menurut Agung, hubungan personal antara Nanik dan Prabowo telah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum Pilpres 2019.
“Relasi dengan Bu Nanik secara personal sudah lama ya terajut sejak masa kampanye Pilpres, setahu saya 2019. Bahkan jauh dari itu, 2014 juga ada relasi ya persahabatan antara Bu Nanik dengan Pak Prabowo,” ujarnya dalam program ON FOCUS, Kamis (4/6/2026).
Agung menilai penunjukan Nanik sebagai Kepala BGN tidak bisa dilepaskan dari faktor kedekatan dan tingkat kepercayaan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
Ia mengingatkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo sehingga pelaksanaannya harus dijaga secara ketat.
“Karena orang semua melihat ya kesuksesan Makan Bergizi Gratis ini dengan asosiasi bahwa ini program utama presiden,” katanya.
Menurut Agung, berbagai persoalan yang sempat muncul dalam pelaksanaan program, mulai dari kasus keracunan, kualitas menu, profesionalitas penyelenggaraan dapur, hingga persoalan penganggaran, harus menjadi perhatian serius.
“Ataupun soal-soal penganggarannya ya. Publik membutuhkan transparansi, akuntabilitas, pengelolaan dana jumbo yang dilakukan oleh BGN berapa, Rp300 triliun lebih, yang itu kalau diasumsikan rata ya Rp1 triliun per bulan,” paparnya.





