Indeks

Sidang Umum PBB, Prabowo Kenang Kelamnya Penjajahan: Kami Dipersekusi Lebih Rendah dari Anjing

New York,- Dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kisah pahit masa penjajahan, menyebut bangsa Indonesia pernah diperlakukan lebih hina dari anjing di tanah sendiri. Dia juga mengaitkan pengalaman tersebut dengan tantangan global masa kini, di tengah tema besar forum internasional yang diangkat tahun ini.

Tema Sidang & Semangat Multilateralisme

Sidang Umum PBB ke-80 ini diselenggarakan dengan tema **“Better together: 80 years and more for peace, development and human rights”** (Bersama lebih baik: 80 tahun dan lebih untuk perdamaian, pembangunan, dan hak asasi manusia).

Tema ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa dalam menghadapi kompleksitas dunia—mulai dari konflik bersenjata, perubahan iklim, hingga ketimpangan sosial—negara-negara harus kembali memperkuat dasar kerjasama multilateral dan solidaritas antar bangsa.

Pernyataan Sekjen PBB: Peringatan & Harapan

Sebelum para pemimpin dunia menyampaikan pidato mereka, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres membuka Sidang Umum dengan peringatan dan seruan bagi dunia. Ia menegaskan bahwa isu perang, kemiskinan, krisis iklim, dan teknologi yang tidak terkendali menjadi ancaman eksistensial jika tidak ditangani bersama.

Menurut Guterres, “the battle will continue against war and poverty … also climate chaos, runaway technologies, the militarization of space, and crises we cannot ignore” (perang terus berjalan melawan peperangan dan kemiskinan … juga kekacauan iklim, perkembangan teknologi tanpa kendali, militerisasi ruang angkasa, dan krisis yang tak bisa kita abaikan).

Dalam kesempatan itu pula, ia mengingatkan bahwa forum ini bukan untuk “mencetak poin diplomasi”, melainkan untuk mencari solusi nyata atas persoalan global.

Pidato Prabowo: Kenangan Penjajahan & Seruan untuk Dunia

Dalam pidatonya, Prabowo mengangkat sejarah kolonialisme untuk menegaskan bahwa bangsa Indonesia pernah hidup dalam penindasan ekstrem dan ketidakadilan. Ia menuturkan bahwa masyarakat kala itu dipaksa menjalani kehidupan penuh penderitaan — kelaparan, penyakit, hingga stigma rasial.

Nomor TDPSE : 023714.1/DJAI.PSE/05/2025

Exit mobile version