TerkiniJambi.Com, Di saat bencana merenggut jalur komunikasi dan menenggelamkan kepastian, seorang anak menempuh langkah panjang penuh harap: lebih dari 117 kilometer berjalan kaki untuk mencari orangtuanya di Sibolga.
Rusman Pardamean Pandiangan, pria asal Berastagi, berangkat dari titik KM 32 Tapanuli Utara dengan kaki telanjang — melewati lumpur, batu, dan sisa material longsor — membawa karung berisi bahan makanan di pundaknya. Bungkusan itu bukan sekadar logistik: itu adalah wujud cinta yang hendak ia serahkan kepada kedua orangtuanya, yang sejak bencana belum dapat dihubungi.
Di setiap langkah, kecemasan berpadu dengan tekad. Jaringan komunikasi yang putus dan akses jalan yang hancur memaksa banyak orang menunda atau menyingkirkan rencana pencarian. Namun bagi Rusman, menunggu bukanlah pilihan.
“Belum ada kabar. Tapi saya tetap jalan. Ini mengirim untuk keluarga,” kata Rusman lirih saat ditanya Kompas TV.
Beberapa kerabat sempat menemani langkah awal, namun medan dan jarak akhirnya membuat mereka kembali ke posko. Rusman melanjutkan perjalanannya sendiri, menghadapi hamparan jalan yang nyaris tak lagi bisa dilalui kendaraan. Wajahnya tampak letih, namun matanya menyimpan keteguhan yang tak goyah.
“Di sana, orang tua, keluarga, keponakan, semua di Sibolga. Sampai kini tidak ada kabar sama sekali,” ujar Rusman sambil menapak pelan di jalur yang belum sepenuhnya dapat ditembus kendaraan. Ketidakpastian itulah yang mendorongnya — bukan sekadar rasa tanggung jawab, melainkan rindu seorang anak yang tak bisa berdiam ketika keluarga terancam.
Perjalanan Rusman adalah potret kecil dari banyak cerita serupa pasca-bencana: akses terputus, harapan menggantung, dan usaha manusia biasa untuk menjangkau satu sama lain ketika sistem komunikasi runtuh. Dengan tangannya yang kotor dan langkah yang gemetar, ia membawa lebih dari sekadar bahan makanan — ia membawa doa dan harapan.
Di tengah kepungan material longsor dan jalan yang terbelah, Rusman terus melangkah. Harapannya sederhana namun berat: semoga bisa segera bertemu — kata-kata yang diucapkannya sebelum kembali melanjutkan perjalanan melewati jalur hancur menuju pusat lokasi bencana di Sibolga.





