Sarolangun – Banjir yang melanda wilayah Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, tidak hanya membawa lumpur dan material kayu, tetapi juga mengungkap fakta mencolok terkait kerusakan ekosistem sungai.
Dalam rekaman visual yang beredar di tengah masyarakat, terlihat sejumlah mesin yang diduga digunakan untuk aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) hanyut terbawa arus deras sungai yang meluap.
Pemandangan mesin-mesin tambang yang terombang-ambing di aliran sungai memicu reaksi keras dari publik. Peristiwa ini dinilai sebagai bukti bahwa aktivitas tambang ilegal masih berlangsung di sepanjang aliran Batang Asai, meskipun dampak lingkungannya telah lama dikeluhkan warga.
Desakan Penertiban Total
Menanggapi kejadian tersebut, masyarakat setempat menyuarakan kemarahan dan kekecewaan. Mereka menilai hanyutnya alat tambang tersebut mencerminkan lemahnya pengawasan dan penindakan terhadap praktik PETI.
“Banjir ini membuka kedok. Selama ini kita sudah berteriak soal kerusakan lingkungan akibat tambang ilegal, dan sekarang mesin-mesinnya sendiri yang hanyut terbawa banjir. Ini sudah keterlaluan,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Sarolangun bersama aparat penegak hukum untuk segera mengambil langkah tegas dan tidak lagi melakukan pembiaran terhadap aktivitas ilegal tersebut.
“Kami minta aparat bertindak tegas. Jangan hanya menindak penambang kecil, tapi bongkar siapa pemilik di balik mesin-mesin ini. Jangan ada tebang pilih atau pandang buluh dalam menegakkan aturan. Jika terus dibiarkan, Batang Asai akan hancur oleh keserakahan segelintir orang,” tambahnya.
Momentum Penyelamatan Lingkungan
Aktivitas PETI di Batang Asai telah lama menjadi persoalan serius. Selain menyebabkan air sungai keruh dan tercemar, pengerukan dasar sungai secara liar juga memperparah pendangkalan serta meningkatkan risiko banjir.
Peristiwa hanyutnya mesin tambang saat banjir ini diharapkan menjadi momentum bagi instansi terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh.





