IRAN,- Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi pasokan energi global, kini ditutup sepenuhnya oleh Iran menyusul kenaikan ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Penutupan ini memiliki dampak langsung terhadap arus perdagangan minyak dan gas dunia, serta berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.
Selat ini — yang terletak di antara Iran dan Oman — selama ini menjadi rute utama bagi ekspor minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk, termasuk Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Diperkirakan lebih dari 20 persen pasokan minyak mentah dan gas global melewati jalur ini setiap harinya.
Komando Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan Selat Hormuz ditutup sepenuhnya dan menegaskan akan melancarkan serangan terhadap kapal yang mencoba melintas tanpa izin.
“Jika ada yang berusaha melewati selat ini, Garda Revolusi dan Angkatan Laut Republik Islam akan membakarnya,” ujar pejabat senior IRGC dalam pernyataan resminya.
Langkah ini disebut sebagai respons tegas Iran terhadap serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan wilayah penting di Iran beberapa hari sebelumnya — tindakan yang memicu eskalasi konflik di kawasan.
Reuters
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur minyak paling krusial di dunia. Sekitar 20-30% pasokan minyak dunia dan volume signifikan gas alam cair (LNG) dipindahkan dari Teluk Persia ke pasar global melalui rute ini.
Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, memperingatkan bahwa penutupan total akan
“menghentikan sekitar seperlima perdagangan minyak global dalam semalam,” dan berpotensi mengguncang pasar energi secara mendalam.
Analis pasar memperkirakan harga minyak mentah dunia telah merespons ketidakpastian ini dengan kenaikan tajam. Harga Brent, salah satu tolok ukur utama harga minyak global, melonjak lebih dari 10 persen dalam beberapa hari terakhir, bahkan mencapai kisaran hampir US$80 per barel, dengan proyeksi dapat menyentuh atau melampaui US$100 per barel jika ketegangan berkepanjangan.
