JAMBI — Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada pembukaan perdagangan, Selasa (14/4/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut meski pergerakan dolar Amerika Serikat cenderung stabil di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah sebesar 0,09 persen ke level Rp17.110 per dolar AS. Posisi ini melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan sebelumnya, Senin (13/4/2026), di mana rupiah ditutup turun tipis 0,06 persen di level Rp17.095 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau stabil di kisaran 98,348 pada pukul 09.00 WIB. Sebelumnya, indeks tersebut sempat terkoreksi 0,29 persen ke level 98,366.
Stabilnya dolar AS di level yang relatif lebih rendah sebenarnya memberi ruang bagi mata uang emerging markets, termasuk rupiah, untuk menguat. Namun, sentimen global masih menjadi faktor penahan, terutama terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah.
Pelaku pasar saat ini mencermati ketegangan di kawasan tersebut, khususnya terkait potensi gangguan pasokan energi akibat langkah Amerika Serikat yang disebut melakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz. Di saat bersamaan, peluang dialog lanjutan antara Washington dan Teheran turut menjadi variabel yang diperhitungkan investor.
BI Perkuat Intervensi, Siaga 24 Jam
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, memastikan bank sentral akan terus hadir di pasar secara terukur.
“BI akan terus masuk ke market, baik di pasar spot, NDF, maupun DNDF. Ke depan, basis pelaku juga akan diperluas, termasuk untuk transaksi NDF di luar negeri,” ujar Destry dalam forum Central Banking Forum 2026.
Ia mengungkapkan, saat ini pergerakan Non-Deliverable Forward (NDF) bahkan sempat berada di atas Rp17.100 per dolar AS, meski belum mencerminkan transaksi riil secara penuh.
Lebih lanjut, BI juga memperkuat strategi intervensi dengan sistem siaga 24 jam di berbagai pusat keuangan global. Langkah ini dilakukan untuk merespons dinamika pasar yang bergerak lintas zona waktu.
