Lonjakan pasien denga depresi dan gangguan mental memaksa layanan medis bekerja di ambang kapasitas, sementara aturan sosial mempersempit akses perempuan.
Afganistan Dalam empat tahun terakhir, rumah sakit dan pusat layanan kesehatan mental di Afghanistan melihat peningkatan pasien yang tajam, sampai beberapa kali lipat. Pusat-pusat rawat jalan kini kewalahan, antrean memanjang, dan daftar tunggu menjadi pemandangan sehari-hari.
“Gangguan mental — khususnya depresi — kini sangat lazim di masyarakat kami,” ujar Dr. Abdul Wali Utmanzai, psikiater senior yang praktik di sebuah rumah sakit di Kabul yang dikelola oleh ARCS. Dr. Utmanzai mengatakan ia menangani sampai sekitar 50 pasien rawat jalan per hari, datang dari berbagai provinsi. Mayoritas pasien, menurutnya, adalah perempuan.
Mayoritas pasien perempuan datang dengan latar belakang tekanan ekonomi dan masalah keluarga.
“Hampir delapan dari setiap sepuluh pasien saya adalah perempuan muda yang bergulat dengan masalah keluarga dan beban ekonomi. Banyak yang tak punya kerabat laki-laki yang bisa menafkahi,” kata Dr. Utmanzai.
Selain rujukan kesehatan, faktor kebijakan sosial juga menghambat akses. Aturan yang membatasi pergerakan perempuan tanpa pendamping laki-laki membuat banyak perempuan kesulitan atau bahkan tak mungkin mengakses layanan kesehatan. Kondisi ini membuat perempuan seperti Mariam dan Habiba — yang pernah mencari bantuan namun terhenti oleh hambatan sosial dan ekonomi — semakin terjebak dalam isolasi dan tanpa dukungan yang memadai.
Pemerintah yang berkuasa sebelumnya menyatakan komitmen untuk meningkatkan layanan kesehatan. Namun di lapangan, banyak fasilitas yang kekurangan tenaga, sumber daya, dan aksesibilitas — sehingga janji kebijakan belum berujung pada perubahan nyata bagi kelompok rentan, terutama perempuan.
Tekanan ganda: ekonomi dan tabu sosial
Para tenaga kesehatan mengatakan pasien tidak hanya datang karena faktor psikologis murni, tetapi juga akibat tekanan ekonomi kronis, kehilangan penghasilan keluarga, dan konflik internal rumah tangga. Dalam suasana ekonomi yang tertekan, masalah mental mudah berkembang menjadi krisis yang menuntut layanan intensif — yang sayangnya terbatas.
