PBNU Undang Akademisi Pro-Israel, Gus Yahya Akui Khilaf dan Minta Maaf

TerkiniJambi

Kehadiran sosok seperti ini di forum elit NU dipandang sebagai kesalahan politik serius yang bisa merusak citra organisasi Islam terbesar di dunia tersebut. Tidak sedikit yang menyebut langkah Gus Yahya justru memberi panggung pada narasi Zionisme di tengah penderitaan rakyat Palestina.

PBNU Tegaskan Dukungan ke Palestina

Meski dihantam kritik, Gus Yahya menegaskan sikap PBNU tidak berubah: tetap berpihak pada perjuangan kemerdekaan Palestina.

“PBNU konsisten mengecam agresi Israel yang telah menimbulkan korban besar di Gaza. Tidak ada alasan bagi NU untuk melunak terhadap kejahatan kemanusiaan itu,” katanya.

Pernyataan ini dimaksudkan untuk meredam gejolak di akar rumput NU, mengingat dukungan terhadap Palestina selama ini menjadi salah satu sikap politik yang tidak bisa ditawar oleh warga Nahdliyin. Namun, polemik undangan terhadap akademisi pro-Israel ini sudah telanjur membuka ruang bagi lawan politik Gus Yahya untuk menyerang legitimasi kepemimpinannya.

Baca Juga :  Polda Metro Jaya Bongkar Laboratorium Etomidate di Pluit, Dua Tersangka Diamankan

Blunder atau Strategi?

Pengamat menilai kasus ini bukan sekadar kelalaian, melainkan bisa berimplikasi politik jangka panjang. Di satu sisi, Gus Yahya ingin menampilkan NU sebagai organisasi terbuka yang siap berdialog dengan berbagai pemikiran global. Namun di sisi lain, keputusan itu justru dianggap blunder yang bisa dimanfaatkan untuk melemahkan posisi NU di panggung politik nasional maupun internasional.

Baca Juga :  Dalang Bom Bali Hambali Akan Diadili di Pengadilan Militer AS November 2025

Dengan dinamika politik Indonesia yang sedang panas, terutama jelang konsolidasi pemerintahan baru, isu ini berpotensi menjadi amunisi bagi pihak-pihak yang tidak sejalan dengan kepemimpinan PBNU. Apalagi, sikap terhadap Palestina selalu menjadi barometer keislaman dan nasionalisme dalam politik Indonesia.

Kesimpulannya, meski Gus Yahya sudah meminta maaf, kontroversi ini belum tentu selesai. Pertanyaan yang kini menggantung: apakah NU benar-benar hanya “khilaf”, atau ada agenda politik yang lebih besar di balik undangan kontroversial ini?

Laporan: Redaksi Terkinijambi.com

Nomor TDPSE : 023714.1/DJAI.PSE/05/2025