Palestina, – Gaza City, kota terbesar dan bersejarah di Jalur Gaza, kini berada di titik paling kelam sejak konflik dua tahun terakhir meletus. Dari kota yang dahulu penuh aktivitas ekonomi, budaya, dan pendidikan, Gaza City berubah menjadi kawasan porak-poranda akibat serangan udara dan darat Israel yang terus berlangsung.
Dari Kehidupan Normal ke Kota Mati
Dua tahun silam, pasar-pasar Gaza City dipadati pembeli, sekolah-sekolah riuh dengan anak-anak, dan kafe-kafe di pesisir pantai menjadi tempat warga mencari ketenangan dari tekanan blokade. Kini, pemandangan itu lenyap. Rumah-rumah hancur, jalan-jalan dipenuhi puing, dan kehidupan sehari-hari berubah menjadi perjuangan bertahan hidup.
Pemerintah Israel mengumumkan rencana offensive besar-besaran di Gaza City, dengan operasi militer yang disebut-sebut akan dimulai pertengahan September. Operasi darat ini melibatkan lebih dari 60 ribu pasukan cadangan dengan target utama menghancurkan jaringan bawah tanah Hamas serta basis pertahanan yang masih tersisa di kawasan padat penduduk.
“Kami tidak akan berhenti sebelum semua sandera dibebaskan dan kemampuan militer Hamas dilumpuhkan,” tegas juru bicara militer Israel, dikutip dari Reuters. Ia juga menyatakan jika Hamas tidak menyerahkan tawanan, maka kota akan “diratakan dengan tanah.”
Ratusan ribu warga masih bertahan di Gaza City meski pemerintah Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi ke selatan. Banyak warga menolak pergi karena trauma perpindahan berulang, sementara sebagian lain tidak memiliki tujuan aman maupun sumber daya untuk mengungsi.
Salah seorang warga, Ahmad (45), mengatakan: “Kami tidak tahu harus ke mana. Setiap kali kami pindah, bom mengikuti. Kami hanya ingin tempat aman bagi anak-anak.”
PBB dan lembaga kemanusiaan mengonfirmasi terjadinya kelaparan yang disebut sebagai “man-made famine” atau kelaparan buatan manusia di Gaza City. Laporan terbaru menyebut lebih dari setengah juta orang berada di ambang krisis pangan akut, dengan ribuan anak-anak dilaporkan meninggal akibat gizi buruk.
