Indeks

ACAB dan 1312 Memuncak di Linimasa Usai Tragedi Rantis Brimob — Simbol Perlawanan atau Provokasi?

Penggunaan slogan ACAB dan kode 1312 merajai linimasa setelah insiden rantis Brimob menabrak pengemudi ojol pada 28 Agustus 2025. (Foto: ilustrasi)

Jakarta, – Setelah insiden kendaraan taktis (rantis) Brimob yang menewaskan pengemudi ojek daring pada 28 Agustus 2025, tagar dan slogan ACAB serta kode numerik 1312 tiba-tiba mendominasi media sosial. Penggunaan frasa dan angka ini memicu perdebatan: apakah itu ungkapan frustrasi kolektif atau bentuk provokasi yang memperkeruh situasi?

Kronologi singkat peristiwa

  1. 28 Agustus 2025 — Insiden rantis Brimob menabrak seorang pengemudi ojek daring saat kerumunan demonstran. Korban dilaporkan meninggal di lokasi.
  2. 29 Agustus 2025 — Serangkaian unjuk rasa berlangsung di sejumlah titik, termasuk depan DPR dan Polda Metro; linimasa media sosial dipenuhi tagar terkait tragedi.
  3. Seiring eskalasi massa, istilah ACAB dan angka 1312 beredar luas sebagai bentuk ekspresi protes digital.

Apa arti “ACAB” dan “1312”?

ACAB adalah singkatan dari All Cops Are Bastards, sebuah slogan protes yang sejarahnya panjang dan muncul dalam berbagai gerakan kritis terhadap institusi kepolisian. Sementara 1312 adalah representasi numerik dari huruf A-C-A-B (A=1, C=3, A=1, B=2) dan sering digunakan sebagai bentuk kode di media sosial.

Dalam praktik sehari-hari, sebagian pengguna menyatakan bahwa penggunaan istilah ini lebih bersifat kritik terhadap budaya kelembagaan, bukan penyerangan personal kepada setiap anggota polisi. Namun tidak sedikit pihak yang menilai slogan tersebut provokatif dan berpotensi memperuncing ketegangan.

“Penggunaan slogan seperti ini mencerminkan kemarahan yang luas, tetapi juga menuntut kehati-hatian agar tuntutan hak asasi dan akuntabilitas tidak tenggelam oleh provokasi.” — Observasi analis sosial.

Respons pejabat dan institusi

Dalam beberapa pernyataan publik, tokoh-tokoh kenegaraan dan lembaga mengimbau penanganan yang transparan:

  • Kompolnas mengimbau warga yang memiliki bukti untuk melaporkan ke instansi yang berwenang guna mempercepat proses penegakan hukum.
  • Dewan Pers meminta media tetap profesional sekaligus mengingatkan aparat untuk melindungi keselamatan jurnalis yang meliput aksi.
  • Beberapa tokoh publik menyerukan penyelidikan independen agar penyebab dan tanggung jawab insiden dapat terungkap secara jelas.

Nomor TDPSE : 023714.1/DJAI.PSE/05/2025

Exit mobile version