TERKINIJAMBI.COM – Kalimat “yang sudah tertakar tak akan tertukar” kembali ramai diperbincangkan dan dibagikan di berbagai platform media sosial. Ungkapan ini bukan sekadar kalimat penenang hati, melainkan mengandung makna mendalam yang selaras dengan ajaran Islam tentang takdir, rezeki, dan ikhtiar manusia.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa setiap ciptaan-Nya telah ditetapkan dengan ukuran yang pasti:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
(QS. Al-Qamar: 49)
Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak ada satu pun peristiwa di muka bumi ini yang terjadi secara kebetulan. Rezeki, umur, jodoh, hingga ujian hidup telah tertakar sesuai dengan kehendak Allah SWT. Apa yang menjadi bagian seseorang tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain, sekeras apa pun manusia berusaha mengambil yang bukan haknya.
Rasulullah SAW pun mengingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam kecemasan terhadap urusan rezeki. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwa seseorang tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah cara dalam mencari rezeki.”
(HR. Al-Hakim)
Hadis ini menjadi penegasan bahwa rezeki tidak perlu dikejar dengan cara-cara yang melanggar nilai kejujuran, keadilan, dan etika. Sebab, apa yang telah ditakar oleh Allah tidak akan tertukar, meskipun diraih melalui jalan yang benar, sabar, dan penuh keikhlasan.
Namun demikian, Islam juga menolak sikap pasrah tanpa usaha. Al-Qur’an secara tegas mengaitkan perubahan nasib dengan ikhtiar manusia:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Di sinilah keseimbangan antara takdir dan ikhtiar diuji. Takdir bukan alasan untuk bermalas-malasan, apalagi membenarkan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan. Sebaliknya, ikhtiar yang jujur dan lurus adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan-Nya.
