Tragedi Siswa SD di NTT: Bunuh Diri Diduga Tak Mampu Beli Buku dan Pena, DPR Sebut Potret Buram Hak Dasar Pendidikan

TerkiniJambi
Gambar Ilustrasi siswa diduga bunuh diri akibat tidak mampu membeli buku dan pena ( gambar Ilustrasi ).
Gambar Ilustrasi siswa diduga bunuh diri akibat tidak mampu membeli buku dan pena ( gambar Ilustrasi ).

NGADA, NUSA TENGGARA TIMUR – Tragedi memilukan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia dalam peristiwa bunuh diri yang diduga dipicu ketidakmampuan ekonomi keluarga memenuhi kebutuhan pendidikan paling dasar, yakni buku tulis dan pena.

Ironisnya, kebutuhan belajar tersebut diketahui bernilai kurang dari Rp10.000. Peristiwa ini pun menuai sorotan luas publik karena dianggap mencerminkan kesenjangan serius pemenuhan hak dasar pendidikan anak, terutama di wilayah tertinggal, meski anggaran pendidikan nasional terus meningkat setiap tahunnya.

Sejumlah pihak menilai tragedi ini bukan sekadar kasus individual, melainkan potret buram sistem perlindungan anak dan pendidikan nasional yang belum sepenuhnya menjangkau kelompok paling rentan.

Baca Juga :  MKD DPR Kejutkan Publik: Skorsing Besar-Besaran Sahroni, Nafa Urbach dan Eko Patrio – Uya Kuya Bebas ?

Anggota Komisi VIII DPR RI, Ina Ammania, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa kasus YBS harus menjadi peringatan keras bagi negara dalam menjamin hak pendidikan dan perlindungan anak.

“Ini harus menjadi alarm serius bagi negara. Ini adalah potret yang buruk bagi dunia pendidikan, termasuk hak-haknya yang paling dasar,” tegas Ina Ammania saat dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, kehadiran negara yang nyata dan efektif semestinya mampu mencegah tragedi serupa, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Ia mendorong evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas berbagai program bantuan pendidikan agar benar-benar tepat sasaran.

Baca Juga :  Stop Kriminalisasi Korban Narkoba, BNN Fokus Pulihkan Bukan Penjara

Senada dengan itu, Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad, menilai peristiwa ini sebagai gambaran kelam dunia pendidikan nasional.

“Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar pendidikan terpenuhi tanpa kecuali. Ini tidak boleh dibiarkan,” ujarnya, seraya mendorong dilakukannya investigasi menyeluruh terhadap kasus tersebut.

Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam terkait latar belakang peristiwa, termasuk kondisi psikososial korban serta keterbatasan ekonomi keluarga. Perhatian juga diarahkan pada peran lingkungan sekolah dan sistem pendampingan terhadap anak-anak yang mengalami tekanan sosial maupun ekonomi.

Nomor TDPSE : 023714.1/DJAI.PSE/05/2025