Indeks

Pusat Peradaban Melayu Kuno di Situs Candi Muaro Jambi Dikepung Aktivitas Industri dan Tambang Ilegal

Gambar Ilustrasi Drone kondisi Situs Candi Muaro Jambi dan tampak dikelilingi stokfile Tambang di sekitarnya ( Dok Photo Tangkapan Layar Redaksi)
Gambar Ilustrasi Drone kondisi Situs Candi Muaro Jambi dan tampak dikelilingi stokfile Tambang di sekitarnya ( Dok Photo Tangkapan Layar Redaksi)

SENGETI — Kawasan Situs Percandian Muaro Jambi, pusat dari peradaban Melayu kuno dan kompleks candi terluas di Asia Tenggara, kembali berada dalam perhatian publik. Aktivitas industri dan pertambangan ilegal yang semakin mendekati zona pelindungan situs membuat kawasan bersejarah ini berada dalam kondisi darurat pelestarian.

Penelusuran lapangan dan laporan berbagai lembaga menemukan keberadaan aktivitas berat seperti stockpile batu bara, pergerakan truk industri, penggunaan alat berat, hingga dugaan terminal muatan di beberapa titik kawasan penyangga. Aktivitas tersebut mengancam keberlanjutan struktur tanah, kanal kuno, lanskap budaya, serta keseimbangan ekologis Sungai Batanghari yang menjadi nadi peradaban Muaro Jambi sejak abad ke-7.

LPKNI Laporkan ke Presiden: “Kami Temukan Dugaan Aktivitas Industri di Zona Terlarang”

Isu ini mendapatkan momentum nasional setelah Lembaga Perlindungan Konsumen Nusantara Indonesia (LPKNI) mengirimkan laporan resmi ke Presiden RI mengenai dugaan maraknya industri ilegal di kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi.

“Kami menemukan indikasi kuat adanya aktivitas industri dan pertambangan yang beroperasi dekat atau bahkan di dalam zona penyangga situs. Kawasan ini harusnya steril. Ini bukan sekadar pelanggaran teknis, tapi ancaman terhadap aset sejarah bangsa,” tegas Ketua LPKNI, Kurniadi Hidayat.

LPKNI menyebut aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan permanen terhadap kontur tanah, struktur kanal kuno, serta meningkatkan risiko amblesan akibat mobilisasi alat berat dan truk industri.

Pemerhati Budaya: “Situs Ini Bukan Hanya Candi, Tetapi Satu Kota Peradaban”

Pemerhati sejarah dan peneliti budaya Melayu di Jambi, Dr. Hamdani, mengingatkan bahwa pelestarian Muaro Jambi tidak boleh dipandang dari bangunan candi semata.

“Nilai Muaro Jambi itu ada pada lanskap, kanal kuno, dan sistem kotanya. Begitu tanahnya rusak dan aliran airnya berubah, peradaban yang tertinggal di dalamnya ikut hilang. Industri berat tidak punya tempat di sana,” jelasnya.

Nomor TDPSE : 023714.1/DJAI.PSE/05/2025

Exit mobile version