SENGETI, – Kecamatan Sungai Gekam yang dikenal sebagai salah satu daerah eks-transmigrasi di Kabupaten Muaro Jambi, kini menjadi kawasan padat perkebunan sawit — dari kebun rakyat hingga perusahaan besar. Keberadaan industri ini mendorong aktivitas ekonomi, tetapi juga memunculkan tantangan bagi infrastruktur lokal, terutama kondisi jalan.
Menanggapi situasi tersebut, H. Ambok Tuo, S.Ag, anggota DPRD dari Dapil Sungai Gekam, menghimbau para pengusaha perkebunan sawit — khususnya perusahaan besar — untuk turut bertanggung jawab dalam menjaga jalan yang telah dibangun pemerintah daerah. Menurut Ambok, perawatan bersama penting agar akses transportasi tetap lancar dan biaya perbaikan tidak membebani anggaran kabupaten.
“Jalan yang sudah dibangun oleh pemerintah daerah mari sama-sama dipelihara dengan baik. Para pengusaha sawit dan pemilik armada angkutan harus mengurangi tonase muatan agar tidak melebihi kapasitas jalan — karena kecepatan kerusakan bergantung pada beban yang melewatinya,” ujar H. Ambok Tuo.
H. Ambok Tuo menegaskan bahwa tindakan sederhana seperti mengatur muatan dan memelihara akses bersama akan membantu meminimalisir alokasi anggaran perbaikan jalan. “Dengan memperhatikan ketahanan jalan yang sudah ada, kita membantu Pemerintah Daerah Muaro Jambi menghemat anggaran dan menjaga kelancaran ekonomi lokal,” tambahnya.
Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan dan Komunitas?
- Pengurangan tonase berlebih: Menetapkan batas muatan armada sesuai kapasitas jalan setempat dan memantau kepatuhan supir/kontraktor.
- Kontribusi perawatan: Perusahaan dapat melakukan program pemeliharaan berkala atau ikut mendanai perbaikan ruas yang paling sering dilintasi armada mereka.
- Koordinasi Pemerintah–Swasta: Menetapkan jadwal angkutan berat pada jam/jalur tertentu untuk mengurangi kepadatan dan titik tekanan pada struktur jalan.
- Pendataan dan monitoring: Membentuk posko bersama desa–perusahaan untuk memantau kondisi jalan dan merencanakan perbaikan.
Dampak Positif Jika Dijalankan Bersama
Kolaborasi ini tidak hanya memperpanjang umur jalan—tetapi juga:





