“Kasus ini menunjukkan bahwa tata kelola minyak di Indonesia masih sangat rentan terhadap manipulasi. Pemerintah harus memperkuat kontrol dan transparansi di semua lini,” ujar Dr. Ahmad Ridwan, pengamat energi Universitas Indonesia.
Selain menunggu hasil persidangan, sejumlah lembaga antikorupsi dan elemen masyarakat sipil mendesak agar pemerintah melakukan audit menyeluruh terhadap proses bisnis di Pertamina. Mereka menilai kasus ini bukan hanya persoalan individu, melainkan sistem yang harus dibenahi secara fundamental.
Riza Chalid sebelumnya dikenal luas sebagai pengusaha migas dengan jaringan internasional kuat dan sempat disebut dalam sejumlah kasus besar, termasuk sengketa minyak pada masa lalu. Kini, namanya kembali menjadi sorotan karena skandal yang menelan kerugian setara hampir 10 persen APBN Indonesia.
Proses hukum masih terus berjalan. Kejaksaan memastikan tidak ada intervensi dan seluruh pihak yang terlibat akan diproses sesuai hukum yang berlaku.
Laporan: Redaksi | Editor @terkinijambi.com | Sumber: Kejksaan Agung Republik Indonesia
