Universitas Indonesia (UI) menyampaikan permintaan maaf secara terbuka usai menuai gelombang kritik lantaran mengundang akademisi pro-Israel, Peter Berkowitz, sebagai pembicara dalam kegiatan orientasi program Pascasarjana 2025.
JAKARTA – Kehadiran Berkowitz, peneliti senior Hoover Institution, Stanford, memantik kontroversi di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Undangan tersebut dinilai tidak sejalan dengan sensitivitas publik Indonesia dan sikap politik luar negeri RI yang konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina.
“Dengan segala kerendahan hati, Universitas Indonesia mengakui kurang hati-hati dalam melakukan background check terhadap yang bersangkutan. Untuk itu kami menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia,”
Pihak UI menyampaikan terima kasih atas kritik dan masukan publik yang dipandang sebagai bagian penting dari kebebasan berekspresi. Kasus ini, ditegaskan Arie, menjadi pembelajaran serius agar ke depan UI lebih selektif dan sensitif ketika mengundang tokoh internasional.
UI menegaskan undangan terhadap Berkowitz murni untuk kepentingan akademik—memberi orasi ilmiah guna memperkaya wawasan mahasiswa pascasarjana lintas bidang, mulai dari sains, teknologi, sosial humaniora, teknik hingga matematika.
“Tidak ada maksud lain selain kepentingan akademik,” imbuh Arie.
Isu ini sebelumnya ramai di media sosial. Sejumlah warganet mempersoalkan rekam jejak Berkowitz yang kerap menyuarakan dukungan terhadap Israel, termasuk lewat karya-karya akademik seperti buku Israel and the Struggle Over the International Laws of War (2012). Gelombang kritik kian deras karena Indonesia melalui amanat UUD 1945 menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi.
UI memastikan komitmen kampus sejalan dengan sikap resmi negara. Pada awal 2025, Rektor UI Heri Hermansyah menerima kunjungan Duta Besar Palestina sebagai penegasan dukungan kampus terhadap perjuangan rakyat Palestina.