PBNU Undang Akademisi Pro-Israel, Gus Yahya Akui Khilaf dan Minta Maaf

TerkiniJambi

Jakarta, 28 Agustus 2025 – Kontroversi besar melanda Nahdlatul Ulama (NU) setelah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengundang akademisi Amerika Serikat, Peter Berkowitz, dalam forum Akademi Kepemimpinan Nasional NU pada 15 Agustus lalu. Kehadiran Berkowitz, yang dikenal sebagai pembela keras Zionisme, langsung menuai gelombang kritik dari publik dan aktivis pro-Palestina.

Peter Berkowitz, peneliti di Hoover Institution Universitas Stanford sekaligus mantan pejabat di Kementerian Luar Negeri AS, memang memiliki reputasi panjang dalam isu hak asasi manusia. Namun rekam jejaknya yang kerap membela kebijakan Israel membuat langkah PBNU ini dianggap blunder politik yang menodai konsistensi NU dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Baca Juga :  Motor Buatan RI Kian Diminati Dunia, Ekspor Tembus 222 Ribu Unit di Awal 2025

Gus Yahya Akui Keliru

Menanggapi kritik luas, Gus Yahya akhirnya buka suara. Ia mengaku mengundang Berkowitz semata-mata karena kapasitas akademiknya dalam isu HAM, bukan karena pandangan politiknya soal Israel. “Saya tertarik karena dia profesor hukum di Stanford, pernah jadi pejabat di Kementerian Luar Negeri Amerika, dan membangun wacana tentang hak asasi manusia,” ujar Gus Yahya di kediamannya, Jakarta Selatan, Selasa (26/8).

Namun, Gus Yahya mengakui bahwa dirinya khilaf dan kurang cermat dalam mempertimbangkan rekam jejak Berkowitz.

“Saya mohon maaf kepada masyarakat karena membuat keputusan tanpa pertimbangan yang teliti dan lengkap terkait Peter Berkowitz ini,” ucapnya

. Ia menegaskan tidak ada satupun pembahasan mengenai konflik Israel–Palestina selama diskusi berlangsung.

“Lagi pula tidak mungkin kami mengkampanyekan Zionisme di masyarakat,” tambahnya.

Kritik Publik dan Tekanan Politik

Gelombang kritik datang dari berbagai pihak, terutama aktivis pro-Palestina dan tokoh Islam yang menilai undangan tersebut mencederai komitmen NU. Berkowitz diketahui menulis buku berjudul Israel and the Struggle over the International Laws of War (2012) yang secara gamblang membela Israel dari kritik hukum internasional, termasuk terkait tragedi flotilla Gaza.

Nomor TDPSE : 023714.1/DJAI.PSE/05/2025