Berdasarkan informasi Sutradara film ini Endiarto dan Bintang Takari, yang juga turut serta menulis naskah bersama produser, seperti Toto Soegriwo digarap dalam waktu sekitar dua bulan sebelum momen 17 Agustus. Meski penayangannya terbatas, proses distribusi dianggap cepat oleh sebagian kalangan. Isu adanya dana pemerintah juga sempat beredar, namun pihak Perfiki Kreasindo membantah dan menegaskan seluruh biaya berasal dari sumber swasta, meski ada masukan kreatif dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif.
Meski kualitas animasi memicu kritik, Merah Putih: One for All tetap mendapat tempat di layar bioskop. Lolosnya film ini dari sensor menjadi penegasan bahwa kriteria kelayakan tayang di Indonesia lebih menekankan pada aspek konten ketimbang kualitas teknis. Waktu akan menjawab apakah film ini mampu bertahan di pasaran atau justru cepat turun layar.
Editor Redaksi @terkinijambi.com