Jakarta. Tentara Israel (IDF) telah mengumumkan dimulainya tahap awal operasi darat untuk merebut kendali Gaza City. Meski operasi bergerak maju, analis dan laporan lapangan menilai militer Israel menghadapi masalah struktural: kelelahan pasukan cadangan dan potensi kekurangan tenaga yang dapat memengaruhi kelancaran operasi di medan kota yang padat penduduk.
Militer Israel menyatakan pasukan sudah memasuki fase awal operasi dan menguasai bagian pinggiran kota Gaza. Pergerakan ini disertai dukungan tank, infanteri, dan serangan udara yang intens — langkah yang menurut pejabat bertujuan untuk menekan struktur komando dan infrastruktur kelompok bersenjata di pusat kota.
(Sumber liputan awal: CNN, Reuters, AP.)
Krisis Kelelahan dan Mobilisasi Cadangan
Sejak konflik berkepanjangan, Israel telah memanggil puluhan ribu reservis dalam beberapa gelombang. Laporan menyebut upaya mobilisasi tambahan hingga puluhan ribu reservis sedang dilakukan untuk memperkuat operasi; sementara itu puluhan ribu reservis lain memperpanjang masa tugas mereka.
Namun muncul sejumlah indikator masalah:
- Moral dan kelelahan: Banyak prajurit cadangan telah lama bertugas dalam operasi yang berlarut sehingga mengalami kelelahan fisik dan mental.
- Penolakan sebagian reservis: Ada laporan penolakan atau penundaan panggilan dan meningkatnya ketidakpuasan di kalangan keluarga reservis.
- Dampak ekonomi domestik: Mobilisasi besar mengurangi tenaga kerja sipil di sektor-sektor penting, menambah tekanan terhadap perekonomian.
“Kami berada pada titik kritis. Pasukan sudah sangat lelah, tapi operasi di Gaza harus terus berjalan.” — Pernyataan pejabat pertahanan Israel (petikan media internasional).
Medan Perang: Tantangan Perang Kota
Pertempuran di kawasan urban seperti Gaza City membawa tantangan taktis berat: jalan sempit, gedung-gedung padat, ancaman perang gerilya, serta risiko korban sipil tinggi. Kombinasi medan yang sulit dan kelelahan pasukan meningkatkan risiko operasi berkepanjangan dan tingginya korban jiwa di kedua belah pihak.