Efisiensi Diumumkan, Tapi Defisit Malah Bengkak: DPR Soroti Kinerja Sri Mulyani

TerkiniJambi

OECD Ikut Bersuara: Efisiensi Harus Nyata

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) turut menyoroti pelebaran defisit Indonesia. Dalam laporan terbarunya, OECD memperkirakan defisit APBN RI bisa mencapai 2,8% dari PDB jika efisiensi gagal direalisasikan maksimal. Lembaga ini meminta Indonesia lebih disiplin fiskal demi menjaga stabilitas makroekonomi dan kepercayaan investor.

Pro dan Kontra Berlanjut

Sejumlah fraksi DPR menyebut langkah pembukaan blokir sebagai bentuk pelanggaran etik anggaran, sebab tidak melalui mekanisme persetujuan legislatif. Namun, pemerintah tetap bergeming dengan alasan kondisi mendesak dan perlunya menjaga keberlangsungan program strategis nasional.

Baca Juga :  Prabowo Tambah Bansos Rp400 Ribu dan 20 Kg Beras untuk 18,3 Juta Keluarga, Cair Bertahap Mulai Akhir Juni 2025

Kesimpulan

  • Efisiensi diumumkan Rp306 triliun, tapi realisasi jauh di bawah ekspektasi.
  • Defisit APBN 2025 membengkak menjadi Rp662 triliun atau 2,78% dari PDB.
  • DPR mendesak transparansi dan kontrol atas blokir serta pembukaan anggaran.
  • Pemerintah berdalih pendapatan anjlok dan program prioritas tidak bisa dihentikan.
Baca Juga :  Efisiensi Anggaran 2026 — PMK 56/2025 dan Reaksi DPR RI

@terkinijambi.com akan terus memantau dinamika kebijakan fiskal pemerintah di tengah transisi kekuasaan dan krisis global yang menekan stabilitas ekonomi nasional.

Redaksi | Kamis, 4 Juli 2025

Nomor TDPSE : 023714.1/DJAI.PSE/05/2025