JAKARTA, — Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Masyita Crystallin, resmi mengakhiri masa jabatannya dan memulai fase baru dalam karier profesionalnya.
Masyita bergabung dengan PT Danantara Investment Management (Persero) sebagai Head of Economic & ESG Strategic Positioning, efektif per 11 Februari 2026.
Peralihan tugas ini disebut sebagai bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal, mekanisme investasi negara, serta pengembangan sektor keuangan nasional.
Penguatan Integrasi Kebijakan dan Investasi
Menurut sumber resmi Kemenkeu, pergeseran posisi tersebut diharapkan dapat memperluas integrasi antara pendekatan kebijakan makro-keuangan dengan standar investasi berkelanjutan yang mengacu pada prinsip Environmental, Social and Governance (ESG).
Dalam peran barunya di Danantara, Masyita akan berfokus pada pemetaan strategi ekonomi serta memperkuat positioning ESG dalam arah investasi jangka panjang perusahaan.
Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk mendorong keterhubungan antara tujuan kebijakan fiskal pemerintah dengan penguatan investasi strategis, terutama di tengah dinamika struktur ekonomi dan perkembangan pasar keuangan domestik.
Selama menjabat sebagai Dirjen SPSK, Masyita dikenal aktif menginisiasi berbagai program reformasi sektor keuangan. Beberapa di antaranya meliputi penguatan kerangka stabilitas sistem keuangan, pendalaman pasar modal, hingga harmonisasi kebijakan menjelang implementasi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Kementerian Keuangan menilai penempatan Masyita di Danantara mencerminkan komitmen pemerintah terhadap kesinambungan kepemimpinan dan praktik tata kelola yang profesional (good governance).
“Ini bukan sekadar pergantian jabatan, tetapi langkah strategis dalam memastikan kebijakan dan investasi saling mendukung dalam mempercepat pembangunan nasional,” demikian pernyataan pejabat Kemenkeu.
Pengalaman Masyita di bidang makroekonomi dan stabilitas finansial dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat nexus antara arah kebijakan fiskal pemerintah dan dinamika investasi yang berorientasi masa depan, termasuk transformasi sektor keuangan menghadapi tantangan global.





