Laporan Fraud Sudah Masuk Sejak Dini Hari
Informasi lain yang terungkap, pihak ketiga yang menangani switching dan monitoring transaksi sebenarnya sudah mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan sejak dini hari.
Laporan pertama disebut dikirim ke Bank 9 sekitar pukul 02.37 WIB, namun tidak mendapat respons.
“Pihak switching sudah kirim report karena terdeteksi fraud, tapi tidak ada respon. Bahkan mereka sampai minta bank lain untuk blokir transaksi dari Bank 9,” kata sumber tersebut.
Dua bank yang disebut menerima aliran dana untuk deposit ke exchange adalah BSS dan Permata.
“Deposit ke exchange lewat dua bank itu. Pihak ketiga juga sudah kirim laporan lengkap, termasuk grafik transaksi ke grup WhatsApp internal Bank 9 yang berisi sekitar 30 orang, termasuk direksi. Tapi tidak ada respon,” ujarnya.
Ia juga menyebut, sebagian transaksi dalam jumlah besar justru masuk melalui bank lain sebelum diteruskan ke exchange.
“Transaksi paling besar lewat Bank Sampoerna,” katanya.
Call Center Mulai Kebanjiran Laporan Pukul 05.00
Laporan kehilangan dana dari nasabah mulai masuk ke call center sekitar pukul 05.00 WIB.
Namun, langkah resmi dari pihak bank untuk memblokir transaksi baru dilakukan beberapa jam kemudian.
“Sekitar jam 8 pagi baru mulai ada surat ke bank lain untuk blokir transaksi. Padahal laporan sudah ada sejak dini hari,” kata sumber tersebut.
Pernyataan Dirut Bank Jambi Jadi Sorotan
Pernyataan Direktur Utama Bank 9 yang menyebut ada keluarga atau kenalannya ikut menjadi korban juga memicu pertanyaan di internal tim investigasi.
“Pernyataan seperti itu justru jadi aneh, seolah memberi kesan bahwa pihak internal tidak mungkin terlibat. Padahal sampai sekarang belum ada data direksi yang terdampak, yang ada justru karyawan,” ujarnya.
Pola Serangan Disebut “Many to One”
Dari hasil analisis teknis, pola transaksi yang digunakan pelaku dinilai sangat rapi dan terstruktur.
Algoritma serangan diduga menggunakan pola otomatis, di mana sistem akan terus mencoba melakukan transfer hingga berhasil.





