JAMBI, — Di tengah gencarnya transformasi digital, Bank Jambi justru diterpa krisis serius yang mengguncang kepercayaan publik. Sistem layanan perbankan yang diharapkan semakin kuat, justru ambruk dan memicu kerugian besar.
Data yang beredar menyebutkan, kerugian akibat gangguan sistem ini mencapai sekitar Rp143 miliar dan berdampak pada ribuan nasabah. Layanan seperti ATM dan mobile banking bahkan sempat lumpuh total.
Ironisnya, sebelum insiden ini terjadi, Bank Jambi diketahui telah menggelontorkan dana sekitar Rp25 miliar untuk penguatan sistem teknologi informasi (IT).
Pertanyaannya kini menguat: ke mana sebenarnya arah penggunaan anggaran tersebut?
Suntikan Modal IT Rp25 Miliar, Tapi Sistem Tak Tahan Uji?
Investasi besar dalam sektor IT seharusnya menjadi benteng utama dalam menghadapi ancaman siber. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sistem Bank Jambi dilaporkan mengalami gangguan serius hingga menyebabkan kebocoran dana nasabah.
Seorang pengamat teknologi informasi yang enggan disebutkan namanya menilai, besarnya anggaran tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas sistem.
“Bisa saja anggaran besar, tapi tidak fokus pada keamanan inti seperti sistem deteksi intrusi atau pengamanan berlapis. Banyak kasus menunjukkan, investasi lebih condong ke tampilan aplikasi daripada keamanan,” ujarnya.
Hal ini membuka dugaan adanya salah arah investasi dalam proyek digitalisasi tersebut.
Biaya Maintenance Membengkak, Tapi Sistem Tetap Rapuh
Tidak hanya soal investasi awal, sorotan tajam juga mengarah pada lonjakan biaya pemeliharaan (maintenance) sistem yang disebut-sebut meningkat signifikan.
Namun, peningkatan biaya tersebut justru tidak diikuti dengan stabilitas sistem. Fakta ini memunculkan tanda tanya besar.
“Kalau biaya maintenance tinggi tapi sistem masih jebol, ada dua kemungkinan: tidak efisien atau ada masalah serius dalam tata kelola proyek,” kata seorang analis perbankan.
Kondisi ini dinilai sebagai “lampu kuning” dalam pengelolaan anggaran teknologi di lingkungan bank daerah.
