Para legislator dan pemerhati anak mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat kebijakan pendidikan inklusif, memperluas bantuan perlengkapan sekolah gratis, serta meningkatkan peran guru dalam mendeteksi dini gejala tekanan emosional pada siswa.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa hak pendidikan bukan sekadar angka anggaran, melainkan soal kehadiran negara yang benar-benar dirasakan oleh anak-anak di lapisan paling bawah.
Penanganan serius atas kasus ini diharapkan tidak berhenti pada belasungkawa semata, tetapi menjadi titik balik kebijakan nyata agar tidak ada lagi anak bangsa yang kehilangan harapan hidup hanya karena persoalan kebutuhan belajar paling mendasar.
Editor Redaksi @terkinijambi.com





