Kelompok petani sawit menyampaikan bahwa penurunan harga TBS berdampak langsung pada pendapatan mereka, terlebih di tengah kenaikan biaya pupuk, tenaga kerja, dan perawatan kebun.
Petani berharap adanya dukungan kebijakan dari pemerintah daerah maupun pusat, termasuk kemungkinan skema perlindungan harga minimum atau insentif tertentu agar usaha tani sawit tetap berkelanjutan.
Selain itu, mereka juga meminta peningkatan pembinaan teknis dan akses informasi pasar agar lebih siap menghadapi pergerakan harga yang fluktuatif.
Pelemahan harga TBS di Jambi tidak terlepas dari dinamika pasokan dan permintaan global CPO, serta persaingan dengan komoditas minyak nabati lainnya. Faktor eksternal ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani sawit di daerah.
Di tengah situasi tersebut, efisiensi biaya produksi, peningkatan produktivitas, dan sinergi kebijakan antara pemerintah dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan sektor perkebunan sawit di Provinsi Jambi.
Editor Redaksi @terkinijambi.com





