SENGETI, — Insiden keracunan massal yang menimpa ratusan warga Kecamatan Sekernan diduga kuat akibat kelalaian serius Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sengeti. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Muaro Jambi menilai banyak prosedur operasional standar (SOP) yang diabaikan dalam pelaksanaan Program Makanan Bergizi (MBG).
Temuan tersebut terungkap dalam rapat dengar pendapat (RDP) DPRD Muaro Jambi bersama seluruh pihak terkait pada Rabu, 4 Februari 2026. Anggota DPRD Muaro Jambi, Usman Halik, secara tegas menyebut insiden ini murni disebabkan oleh kelalaian pihak SPPG Sengeti.
“Dari pengakuan semua pihak, mulai dari pengolahan bahan mentah, proses memasak, sampai pendistribusian, semuanya melanggar SOP,” ujar Usman Halik.
Usman membeberkan sejumlah temuan krusial dalam pengelolaan makanan MBG. Salah satunya, sayuran yang diterima pada sore hari baru diolah hingga tengah malam. Selain itu, ayam yang digunakan merupakan ayam beku, bukan ayam segar, dan dicuci menggunakan air sumur bor. Perlakuan serupa juga dilakukan terhadap tahu.
Fakta lain yang disorot DPRD adalah penyajian kol yang masih mentah dalam menu soto siswa sekolah. Kol tersebut hanya disiram sedikit air panas sebelum disajikan.
“Kol disajikan dalam kondisi mentah dan hanya disiram air panas. Itu jelas tidak memenuhi standar kesehatan,” tegas Usman.
DPRD Muaro Jambi juga menyoroti penggunaan wadah makanan atau ompreng yang dinilai tidak steril, serta jeda waktu antara pengolahan dan konsumsi yang terlalu lama. Makanan yang selesai dimasak sekitar pukul 00.00 WIB baru dikonsumsi oleh anak-anak sekitar pukul 10.00 WIB. Bahkan, sebagian makanan dibawa pulang ke rumah.
“Artinya makanan itu sudah sekitar 10 jam. Menurut kami, ini sudah tidak layak konsumsi,” tambahnya.
Atas kejadian tersebut, DPRD Muaro Jambi merekomendasikan pemerintah daerah untuk menjatuhkan sanksi tegas apabila terbukti terdapat unsur kelalaian dalam pelaksanaan program MBG. DPRD juga meminta pengawasan terhadap seluruh SPPG di wilayah Muaro Jambi diperketat guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
