Pada tahun 1807 diterbitkan edisi Alkitab yang disunting khusus—dikenal sebagai “Select Parts of the Holy Bible for the Use of the Negro Slaves in the British West-India Islands”—yang menghilangkan narasi pembebasan dan mempertahankan ayat-ayat yang menekankan ketaatan kepada tuan. Edisi ini menunjukkan bagaimana teks keagamaan dapat dimanipulasi untuk memperkuat sistem perbudakan.

Apa itu “Alkitab Para Budak” (Slave Bible)?
Edisi yang diterbitkan di London pada 1807 ini bukan Alkitab lengkap. Penerbit menyusun bagian-bagian tertentu saja dari Kitab Suci—dengan sengaja menghapus narasi yang berpotensi mendorong gagasan kebebasan atau pemberontakan, lalu mempertahankan bagian yang menekankan ketaatan dan penundukan.
“Select Parts of the Holy Bible: for the Use of the Negro Slaves in the British West-India Islands.”
Menurut catatan sejarah, hanya sebagian kecil dari Perjanjian Lama yang dimasukkan, sementara bagian Perjanjian Baru juga dipilih secara selektif. Kisah-kisah seperti pembebasan bangsa Israel di bawah Musa (Kitab Keluaran) yang paling mungkin memicu kesadaran tentang kebebasan dihilangkan. Sebaliknya, pasal yang mengatur hubungan hamba-tuan dibiarkan tercantum.
Kenapa edisi ini dibuat?
Latar sejarah penting untuk dipahami: edisi ini terbit tepat setelah gelombang perubahan besar di Karibia — termasuk Revolusi Haiti (1804) — yang membuat para pemilik budak kolonial khawatir akan kemungkinan pemberontakan. Dalam konteks fragilitas kekuasaan kolonial itu, agama dipakai sebagai instrumen untuk mengatur perilaku dan menanamkan ketaatan.
Organisasi misionaris yang terlibat bermotif evangelis, tetapi praktik penerbitan dan penyebaran kitab ini beroperasi dalam bingkai struktur kolonial yang melindungi kepentingan pemilik budak. Dengan kata lain: misi agama dan kekuasaan ekonomi-politik berjalan beriringan.





