Buku tersebut membedah bagaimana patriarki, kekuasaan, dan keagamaan menciptakan sistem yang melegalkan kekerasan terhadap perempuan dengan dalih moral dan iman. Penulisnya, Claire Mitchell KC dan Zoe Venditozzi, juga merupakan penggagas kampanye Witches of Scotland—gerakan yang menuntut pengakuan dan permintaan maaf atas pembunuhan massal yang disponsori negara.
“Mereka tidak mati karena sihir. Mereka mati karena kebohongan, ketakutan, dan kekuasaan,” ujar Mitchell dalam wawancara peluncuran buku yang dikutip oleh Euronews (Februari 2025).
Tartan untuk Para Korban
Sebagai bentuk penghormatan, pada 11 Februari 2025 sebuah tartan—motif kain khas Skotlandia—resmi didaftarkan di Scottish Register of Tartans dengan nama “Witches of Scotland”.
Dirancang oleh Clare Campbell dari Prickly Thistle, tartan ini bukan sekadar kain. Warna hitam dan abu-abu melambangkan abu para korban; merah simbol darah mereka; sementara benang merah muda menggambarkan pita-pita hukum yang membungkus dokumen pengadilan abad ke-16.
“Setiap helai benang adalah doa kecil bagi mereka yang dibungkam,” kata Campbell saat peluncuran di Inverness. “Kami ingin masyarakat mengingat bahwa sejarah ini bukan dongeng—ia nyata, dan terjadi di tanah kita sendiri.”
Dari Api ke Pengampunan
Pada Maret 2022, mantan Perdana Menteri Skotlandia Nicola Sturgeon akhirnya menyampaikan permintaan maaf resmi kepada seluruh korban perburuan penyihir. Kampanye Witches of Scotland terus mendesak pemerintah agar membangun monumen peringatan permanen.
Kini, buku How to Kill a Witch dan tartan peringatan menjadi simbol kebangkitan memori kolektif bangsa—bahwa di balik sejarah besar kerajaan, ada ribuan suara perempuan yang dipadamkan oleh ketakutan dan kuasa.
Sejarah mungkin tak bisa dihapus, tapi ia bisa diperbaiki. Dan setiap helai tartan yang ditenun hari ini, adalah benang pengingat bahwa keadilan, meski terlambat empat abad, akhirnya mulai berbicara.
Disusun oleh
Tim Redaksi @terkinijambi.com
