Dari Moskow, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan bahwa Rusia mendukung perlindungan terhadap kepentingan Iran, namun menekankan pentingnya deeskalasi.
Ketegangan Dampak dari Serangan Juni
Konflik ini berakar dari serangan Israel terhadap beberapa fasilitas nuklir dan pangkalan militer Iran pada 13 Juni 2025. Iran membalas dengan rudal balistik ke wilayah Galilea dan Dataran Tinggi Golan. Intervensi militer AS di awal Juli lalu sempat memperburuk ketegangan, namun akhirnya memediasi gencatan senjata pada 24 Juni 2025.
Menurut analis Timur Tengah, Hossein Aryan:
“Gencatan senjata ini hanya menunda, bukan menyelesaikan. Selama akar konfliknya tidak dibenahi, perang bisa pecah kapan saja.”
Ancaman Terhadap Stabilitas Energi Global
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena merupakan jalur utama ekspor energi dunia. Ekonom energi dari Asia Energy Institute, Dr. Eliza Karim, memperingatkan:
“Jika Iran memblokir Selat Hormuz, dampaknya bukan hanya ke Israel, tapi seluruh dunia. Itu akan memicu ketidakstabilan ekonomi global.”
Kesimpulan dan Prospek
Situasi antara Iran dan Israel masih berada dalam zona merah. Ketidakpercayaan, provokasi balik, serta minimnya kepercayaan internasional menjadikan gencatan senjata sebagai titik henti yang rapuh. Di balik pernyataan resmi, tampaknya masing-masing pihak tengah menimbang kapan waktu paling tepat untuk bertindak.
Redaksi@TerkiniJambi
Sumber: The Guardian, Reuters, Al Jazeera, IRNA, Times of Israel, CNN International
