Potret Kehidupan Guru Madin: Jual Motor Demi Damai
AZ telah mengabdi di madrasah tersebut selama lebih dari 20 tahun. Ia dikenal disiplin dan berdedikasi tinggi. Namun, kehidupannya jauh dari sejahtera. Dalam pengakuannya, AZ menyebut bahwa ia hanya menerima gaji Rp450 ribu tiap 4 bulan, tanpa tunjangan dan jaminan sosial.
“Saya hanya guru ngaji. Saya tidak pernah bermaksud menyakiti anak. Waktu itu saya hilang kontrol, saya sudah minta maaf,” kata AZ yang menangis di hadapan awak media.
Untuk membayar denda, AZ menjual sepeda motor satu-satunya dan meminjam uang dari rekan guru serta keluarga. Ia juga mendapat bantuan dari komunitas FKDT yang prihatin atas nasibnya.
Suara Komunitas dan Pemerhati Pendidikan
Ketua FKDT Demak, Ustaz Rois Ma’arif, menyatakan bahwa kasus ini mencerminkan lemahnya perlindungan terhadap guru ngaji di tingkat desa dan perlu perhatian dari pemerintah.
“Guru madin itu pahlawan pendidikan akhlak, tapi gajinya lebih rendah dari standar hidup layak. Kalau mereka digugat tanpa perlindungan, siapa lagi yang mau mengajar ngaji anak-anak kita?”
Kesimpulan
Mediasi antara AZ dan keluarga murid telah menghasilkan kesepakatan damai dengan denda sebesar Rp12,5 juta. Namun, kasus ini menjadi sorotan nasional karena memperlihatkan minimnya perlindungan hukum dan kesejahteraan bagi guru madrasah non-formal. DPRD Demak mendesak agar laporan dicabut dan mendorong kebijakan perlindungan yang lebih adil.
Redaksi: @terkinijambi.com
Editor: Tim Investigasi Redaksi
Sumber: detikJateng, MetroTV, Suara Merdeka, FKDT, Polres Demak, DPRD Demak
